Wednesday, 4 July 2018

PEMANFAATAN LIMBAH ORGANIK PASAR SEBAGAI PAKAN TERNAK



PEMANFAATAN LIMBAH ORGANIK PASAR SEBAGAI PAKAN TERNAK



                     




            Oleh : Jamaluddin ZA, S. Pt (Kasi Budidaya Peternakan Dinas Peternakan Kab. Lebak)



Biaya untuk pakan ternak menempati biaya tertinggi dalam suatu usaha peternakan komersial. Sering terjadi kegagalan usaha peternakan karena tidak mampu membiayai pakan. oleh karena itu perlu diupayakan ketersediaan pakan dengan biaya semurah mungkin. sudah banyak langkah yang dilakukan oleh peternak mulai dari penyediaan pakan lokal sampai impor dari luar, namun tetap saja biaya pakan tinggi. Ada salah satu alternatif sumber pakan ternak ruminansia, yaitu limbah organik pasar, dengan memanfaatkan limbah organik pasar memberikan dua keuntungan. Pertama dapat menanggulangi permasalahan limbah organik pasar, kemudian yang kedua mengurangi biaya pakan ternak.



A.  Permasalahan yang Ditimbulkan dari Limbah Organik Pasar

Penanganan limbah organik pasar selama ini masih konvensional dengan membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pembunangan sampah dengan cara ini dapat mencemari lingkungan disekitarnya dan tidak memiliki nilai tambah. Keadaan ini dapat menimbulkan polusi berupa bau busuk dari hasil fermentasi sampah organik.

Dampak lain akibat dari pembuangan sampah organik yang tidak dikelola dengan baik adalah mengganggu kesehatan yaitu timbulnya penyakit seperti diare, kolera, tifus dan penyait akibat jamur. Tempat pembuangan limbah juga bisa jadi tempat berkembangbiaknya lalat dan tikus, lalat dan tikus ini bisa sebagai pembawa penyakit pada manusia.

Kemudian akibatnya terhadap lingkunan dapat mencemari lingkungan, rembesan cairan hasil fermentasi yang bisa mengalir ke tempat yang lain. Misalnya ke perumah penduduk. Jika dibuang ke sungai akan mencemari sungai dan merusak ekosistemnya, misalnya matinya ikan akibat dari fermentasi limbah organik yg menghasilkan NH-3. Akibat yang terjadi dari pembuangan limbah organik pasar ke lokasi TPA sering terjadi benturan dengan masayarakat sekitar, karena dianggap mencemari lingkungan. 



B.  Limbah Organik Pasar Sebagai Pakan Ternak

Limbah organik pasar ternyata merupakan salah satu peluang pakan dengan biaya murah. limbah organik seperti kulit jagung, kulit tauge, daun pisang, sisa sayur-sayuran dan sebagainya ternyata cukup melimpah setiap hari. Limbah pasar ini tidak kalah nilai nutrisinya dibandingkan dengan rumput unggul. Jadi limbah organik pasar dapat menggantikan biaya pembelian rumput unggul.

Limbah organik pasar sebelum diberikan pada ternak harus dibersihkan terlebih dahulu, perlakuan ini bertujuan agar limbah yang diberikan terbebas dari mikroorganisme yang merugikan. Limbah pasar berupa kulit jagung bisa diberikan secara langsung kepada ternak sedangkan limbah dari sayur-sayuran sebaiknya diolah terlebih dahulu, karena mengandung kadar air yang tinggi, bisa mencapai 95%. Sehingga jika disimpan tanpa pengolahan akan cepat busuk. Sayuran berupa kol dan kubis apabila diberikan secara langsung kepada ternak dalam jumlah yang banyak tanpa pengolahan akan menyebabkan ternak kembung perut.  

Apabila produksi limbah organik pasar melimpah maka bisa dilakukan pengawetan.  Pengawetan bermanfaat untuk memperpanjang masa simpan.  Pengawetan limbah organik pasar bisa dilakukan dengan beberapa metode, yaitu dengan pembuatan silase dan juga penurunan kadar air seperti hay.  Bahan-bahan seperti sayur-sayuran dan kulit jagung bisa diawetkan dengan metode silase, sementara kulit touge dan kulit jagung bisa diawetkan dengan penurunan kadar air atau pengeringan, bahkan bisa dibuat dalam bentuk tepung atau pellet.

Pembuatan silase dari bahan organik limbah pasar yaitu dengan cara melayukan limbah berupa sayur-sayuran, agar kadar airnya tidak terlalu tinggi. Biasanya limbah sayuran kadar airnya cukup tinggi.  Kadar air sayuran yang layak dibuat silase adalah antara 55-65%. Sedangkan kadar air untuk hay dari limbah organik pasar sebaiknya sekitar 15 %. Pemanfaatan limbah organik pasar dapat menekan biaya pakan.  Karena tidak membutuhkan biaya untuk membeli HPT atau biaya dalam budidaya HPT.







C.  Kandungan Nutrisi dari Berbagai Limbah Organik Pasar



C.1.  Kol atau Kubis

Kol atau kubis salah satu sayuran yang banyak ditemukan dari limbah pasar.  Kol atau kubis merupakan sayuran yang berntuk bulat yang terbentuk dari lapisan daun.  Kol memiliki tekstur yang lembut dan memiliki kadar air yang tinggi. Nilai nutrisi Kol dari 100 g, energi 25 kcal, karbohidrat 5,8 g, lemak 0,1g, protein 1,28g,  Vit B1 0,0061 mg, Vit B2 0,040 g, Vit B6 0,124 g, Kalium 170 mg, Kalsium 40 mg dan Mg 12 mg.(USDA Nutrient database).



C.2. Kol merah

Kol merah dari 100 g memiliki kandungan nutrisi sebagai berikut : Protein 1,43 g dan energi 31 kkal, lemak 0,16 dan kalsium 45 mg (USDA Nutrient database)



C.3.  Bayam

Bayam juga banyak ditemukan pada limbah organik pasar, berikut ini nilai nutrisi dari 100 g bayam :  45 kkal, protein 3,5g, lemak 0,5 g, karbohidrat 6,5 g, kalsium 267 mg, Fe 3,9 mg, Vit B2 9,15 mg, Vit C 76,7 mg dan Kalium 285 mg. (World Healtiest’s Food Rating) dan menurut BPTP  banyam meliki kandungan nutrisi: Fe 3 g, kalsium 81 g, karbohidrat 3,2 g dan Protei 2,3 g seta memiliki vit A, C, fosfor, kalim dll.(BPTP Sulawesi Utara, 2016).



C.4.  Petsai (sawi cina)

            Petsai dari 100 g memiliki kandungan nutrisi sebagai berikut : protein 1,50 dan energi 14 k kalori. (USDA Nutrient database)



C.5.  Wortel

Wortel dari 100 g memiliki kandungan nutrisi sebagai berikut : Protein 0,93 g, energi 41 kkal, lemak 0,24 g. (USDA Nutrient database)



C.6.  Brokoli

Brokoli dari 100 g memiliki kandungan nutris sebagai berikut : Protein 3,17 g, energi 22 kkal, lemak 0,49 g, dan kalsium 108 mg (USDA Nutrient database)





           

C.7. Kulit Jagung

Kulit jagung juga sering ditemukan pada limbah organik pasar. Kulit jagung secara in-vitro memiliki nilai kecernaan tinggi yaitu 68% (Mcctucheon and Samples, 2001). Nilai palatabilitas yang diukur secara kualitatif menunjukkan bahwa daun dan kulit jagung lebih disukai oleh ternak dibanding dengan batang ataupun tongkol (Wilson, et al, 2004). 





DAFTAR PUSTAKA

BPTP Sulawesi Utara 2016

IPB Repository

United State Department of Agriculture (USDA). Agricultural research service.




PERMASALAHAN DAN PENANGANAN ANAK SAPI/KERBAU BARU LAHIR



PERMASALAHAN DAN PENANGANAN
 ANAK SAPI/KERBAU BARU LAHIR


                         


Oleh :  Jamaluddin ZA, S.Pt ( Kasi Budidaya Peternakan Disnak Lebak)

Sering ditemui kasus atau permasalahan disaat awal kelahiran anak sapi (pedet) atau anak kerbau (eneng), kejadian ini perlu penanganan dengan cepat agar tidak mengakibatkan kejadian yang lebih buruk seperti kematian pedet/eneng. Penanganan anak baru lahir sangat penting dilakukan dalam usaha budidaya ternak. Penanganan yang baik di awal kelahiran ternak akan menghasilkan ternak yang sehat dan pertumbuhanya baik. Penanganan anak sapi/kerbau baru lahir harus menjadi perhatian peternak karena kematian paling tinggi terjadi pada saat awal kelahiran.  Penanganan mulai dilakukan sebelum induk melahirkan, baik dari segi pakan maupun kandangnya. Adapun kasus-kasus yang sering ditemui pada pedet baru lahir adalah :

A. Pedet/eneng Lahir lumpuh

Berdasarkan pengalaman selama menangani budidaya ternak sapi/kerbau di masyarakat.  Ada beberapa ternak yang melahirkan pedet/eneng  yang tidak bisa berdiri (lumpuh). Pedet/eneng lumpuh ini harus segera ditangani agar bisa berdiri dan bisa tumbuh dengan baik.  Pedet/eneng lumpuh jika tidak ditangani dengan cepat bisa menyebabkan kematian karena tidak bisa menyusui pada induknya.  

Kejadia pedet/eneng lahir lumpuh terjadi pada peternakan yang kekurangan pakan baik kualitas maupun kuantitasnya. Oleh karena itu mencegah agar tidak terjadi pedet lahir lumpuh adalah dengan pemberian pakan pada induk saat bunting yang memenuhi kebutuhan nutrisi terutama Ca dan Posfor sehingga pertumbuhan fetus dalam kandungan berjalan dengan baik.

Penanganan apabila terjadi pedet lahir lumpuh adalah :

1.  Membersihkan pedet dengan lap atau jerami kering

2.  Peras susu induk untuk mengambil kolostrum dan diminumkan ke pedet yang lumpuh

3.  Menyiapkan rangka dari kayu untuk menahan badan pedet agar tetap berdiri.

4.  Melebarkan kaki depan dan kaki belakang agar bediri lebih kokoh

5.  Pedet yang lumpuh ditahan dengan tangan agar tetap berdiri, salah satu tangan  Berada dipunggung dan yang satunya dipangkal leher untuk menahan leher selama kurang lebih 30 menit atau sampai terlihat sudah bisa berdiri kokoh.

6.  Lepaskan rangka kayu dan biarkan pedet berjalan.



B.  Pedet/eneng Diare

Diare paling rentan terjadi pada pedet/eneng terutama pada usia dari 1 hari - 3 bulan, anak sapi yang baru lahir mempunyai kekebalan tubuh yang sangat rendah karena belum mengkonsumsi kolostrum. Karena kekebalan tubuh yang rendah akan mengakibatkan pedet/eneng mudah terserang diare. Tanda-tanda pedet/eneng diare adalah feces encer dan berbau menyengat dengan warna feces putih keabuabuan. Kematian sangat tinggi akibat penyakit ini. Penyebab kematian karenya dehidrasi yang sangat tinggi, pedet kehilangan cairan tubuh yang sangat banyak, pedet kelihatan lemah, mata sayu kemudian lumpuh dan mati. Diare  biasanya disebabkan oleh agen infeksius dan penyebab lain.  Diare yang disebabkan oleh agen infeksius berupa Bakteri, virus dan protozoa (Chotiah S.). Penyebab paling umum dijumpai pada kasus diare adalah bakteri E. Coli.

Penyakit diare pada pedet/eneng terjadi karena lingkungan kandang yang tidak higienis.  Agar tidak terjadi diare pada pedet, kandang induk untuk melahirkan harus bersih dan kering terlebih dahulu. Sebaiknya sebelum menempatkan induk dikandang melahirkan, kandang terlebih dahulu didesinfeksi, agar mikroorganisme yang merugikan tidak tumbuh dan berkembang di kandang.

Pedet yang baru lahir sangat perlu penanganan, pedet/eneng yang baru lahir dipotong tali pusarnya dan dioleskan yodium tincture atau betadin agar tidak terjadi infeksi. Pemberian kolostrum dari induk juga sangat penting agar meningkatkan daya tahan tubuh pedet.  Sebelum menyusukan anak pada induknya terlebih dahulu dipastikan kebersihan puting susu induk, karena ini yang sangat sering mengakibatkan tercemarnya susu yang diminum oleh pedet yang bisa menyebabkan diare. Kemudian vaksinasi terhadap sapi/kerbau dara atau induk perlu dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap diare.

Penanganan pedet yang sudah terkena penyakit diare adalah dengan melakukan kebersihan kandang sekaligus melakukan desinfeksi. Memisahkan anak yang diare dan induknya dari ternak yang lain agar tidak menular. Kemudian memberikan larutan oralit atau campuran gula dan garam kepada pedet/eneng untuk mengatasi dehidrasi, ditambah dengan antibiotik untuk membasmi bakteri E. Coli atau salmonella. Jika memberikan susu pengganti sebaiknya menghindari susu yang mengandung laktosa.

C. Anak Sapi/Kerbau yang Tidak Disusui oleh Induknya

Kadangkala ada induk sapi atau kerbau yang tidak mau menyusui anaknya. Setelah melahirkan anaknya langsung ditinggalkan, ada juga setelah dijilatin dan anaknya berdiri saat menyusui ditendang oleh induknya. Keadaan ini jika diibiarkan terus menerus bisa mengakibatkan pedet kekurangan nutrisi bahkan mati, sehingga perlu dicari solusinya.  Salah satu solusinya adalah pemberian susu pengganti, pemberian susu pengganti harus memenuhi konsistensi dan kualitas susu sesuai kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangan pedet. Kebutuhan susu pada pedet adalah 10 % dari berat badan. jika berat pedet 30 kg maka kebutuhan susu yang harus diberikan adalah 3 Liter per hari. Temperatur optimal dari susu pengganti adalah 39 0C.

Susu pengganti bisa diberikan susu dari sapi perah murni yang dibeli dari peternakan sapi perah, susu bubuk atau bisa juga membuat sendiri susu pengganti.  Sebelum memberikan susu pengganti pada pedet terlebih dahulu kolostrum dari induk diperas dan diberikan pada pedet untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya.  Pemberian kolostrum dari induk diupayakan selama 3 hari.

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat memberikan susu pengganti pada anak sapi/kerbau adalah jenis susu yang diberikan, jika susu bubuk yang diberikan sebaiknya diberikan susu full cream jangan memberikan susu formula bayi karena bisa menyebabkan diare pada pedet. Kemudian kebersihan dot dan botol susunya harus terjaga. Sebelum mengisi susu pada botol terlebih dahulu dot dan botolnya distrilkan dengan cara menyeduh botol dan dot dengan air panas agar mikroorganisme yang merugiakan mati.

Harapan dengan adanya informasi ini dapat membantu peternak dalam menagani anak sapi/kerbaunya yang baru lahir. Semoga bermanfaat.



DAFTAR PUSTAKA

Adi Sudono, dkk (2004).  Beternak Sapi Perah Secara Intensif. Agromedia Pustaka.

Acres, S. D. at al (1977).  Acut  undifferentiatidneonatal diarrhea in beef calves : The

          prevalence of enterotoxigenic E. Coli, reo-like (rota) virus and ather enteropathogens in  

        cow calf herd.



Agritech (2016) ballyanni, Nenang

Chotiah S. Diare pada anak sapi : Agen penyebab, diagnosa dan penanggulanganya. Balai

        Besar Penelitian Veteriner. Bogor


Sunday, 6 May 2018

TATALAKSANA BUDIDAYA TERNAK DOMBA


TATALAKSANA BUDIDAYA TERNAK DOMBA
Oleh : Jamaluddin ZA, S.Pt.



Domba sudah biasa dipelihara oleh masyarakat pedesaan di Kabupaten lebak. Budidaya domba biasanya sebagai tabubungan bagi peternak. Jika ada kebutuhan mendadak, domba yang dimiliki akan dijual. Biasanya peternak menjual domba jantan karena memiliki harga yang lebih tinggi dibanding domba betina.  Pemasaran domba di Kab. Lebak masih terbuka luas. Masih tinggi permintaan terhadap ternak domba. Penjualan bisa dilakukan dengan cepat. Tengkulak akan datang apabila ada domba peternak yang akan di jual.  Pemasaran domba juga bisa kepada tukang sate dan juga oleh masyarkat untuk kebutuhan pesta maupun aqiqah.  Harga domba akan tinggi pada saat menjelang idul adha.
Pemeliharaan domba di pedesaan masih banyak yang ekstensif, pemberian pakan masih mengandalkan padang penggembalaan, belum ada teknologi pengolahan pakan yang dilakukan. Berikut ini tahapan tatalaksana budidaya domba :

A. Penanaman Hijauan Pakan Ternak (HPT)



            Sebelum melaksanakan budidaya domba, peternak sebaiknya menanam hijauan pakan ternak. Karena pakan merupakan salah satu faktor penting dalam usaha budidaya domba. Biasanya kegagalan dalam budidaya domba banyak terjadi karena peternak tidak menyediakan pakan yang cukup untuk dombanya, baik nutrisi maupun jumlahnya.
HPT yang cocok untuk pakan domba adalah pakan yang bertekstur lembut dan palatable, seperti rumput setaria, odot dan lain-lain. Selain itu leguminosa sebagai sumber protein harus disediakan, leguminosa bisa ditanam di batas-batas lahan. Leguminosa dipergunakan sebagai sumber protein dalam pakan domba. Leguminosa yang baik ditanam sebagai pakan domba adalah gamal, lamtoro atau indigofera.
            Menanam HPT bisa diakukan di lahan peternak yang masih kosong maupun disela-sela tanaman.  Produksi  HPT harus dihitung agar seimbang dengan jumlah domba yang dipelihara. Kebutuhan pakan domba per ekor setiap hari dalam bentuk segar adalah 10 % dari bobot badan. Kebutuhan domba yang dipelihara harus seimbang dengan produksi HPT yang ditanam.

B.  Pembuatan Kandang


Kandang domba sebaiknya kandang panggung. Kandang domba harus selalu bersih dan kering.  Feses dan urin tidak boleh berkumpul di dalam kandang, akan tetapi harus jatuh ke bawah.  Jika urin dan feses menumpuk di dalam kandang akan mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit. Oleh karena itu lantai kandang dibuat tidak rapat untuk memudahkan urin dan feses jatuh ke bawah.
Bahan untuk membuat kandang bisa terbuat dari kayu maupun bambu. Sedangkan atapnya bisa terbuat dari asbes, genteng maupun daun rumbia. Jenis kandang domba ada 2 macam yaitu kandang koloni dan kandang individu.  Kandang individu  dibuat untuk kandang pejantan dan kandang penggemukan. Sedangkan kandang koloni untuk kandang induk. Kemudian disediakan juga kandang khusus beranak agar anak yang lahir tidak terinjak oleh domba yang lain.

C.  Pemilihan Bibit Domba
Pemilihan bibit sangat berpengaruh terhadap kualitas turunan domba. Pemilihan bibit unggul akan menghasilkan keturunan yang unggul pula. Berikut ini cara memilih bibit yang baik untuk budidaya domba :
1. Domba sehat
            Domba yang sehat dapat dilihat dari gerakanya yang lincah, matanya bersinar, warna bulu tidak kusam, bulu tidak mudah rontok dan tidak cacat.
2. Performa baik
Performa baik dilihat dari postur tubuhnya yang tinggi, panjang dan kakinya berdiri kokoh.  Pejantan memiliki libido yang tinggi dengan sperma yan berkualitas baik.  Sedangkan betina masih produktif. Jika memungkinkan dilihat silsilah keturunanya. Biasanya jika induknya melahirkan anak lebih dari satu maka turunanyapun demikian.

D.  Pemeliharaan Domba
Managemen pemeliharaan domba sangat berpengaruh terhadap keberhasilan usaha budidaya domba. Semakin baik managemen semakin baik hasil yang diperoleh. Managemen budidaya ternak termasuk pemberian pakan dan minum, pencukuran bulu, memandikan domba, kesehatan ternak dan rekording.

D.1. Pemberian Pakan dan Minum
Kebutuhan pakan ternak dalam budidaya domba harus terpenuhi baik nutrisi maupun jumlahnya. Pemberian pakan pada ternak domba dilakukan dua kali sehari pagi dan sore hari. Pakan bisa berupa rumput atau konsentrat. Pemeliharaan budidaya ternak domba harus bisa menekan biaya konsentrat untuk mengurangi biaya pakan.  Karena budidaya ternak domba membutuhkan waktu yang lama. Konsentrat bisa digantikan dengan leguminosa seperti lamtoro, ki hujan dan lain lain.  Pemberian rumput tidak boleh dalam bentuk basah karena bisa mengakibatkan kembung.  Apalagi yang diarit di pagi hari masih ada embun pagi, hal ini bisa mengakibatkan domba terkena cacingan. Karena rumput yang ada embun pagi mengandung telor cacing.  Pemberian leguminosa sebaiknya tidak diberikan secara langsung butuh waktu pelayuan selama satu hari.  Hal ini utuk mengurangi kadar toxin yang terdapat di dalam legum.
Pemberian minum harus tersedia setiap saat (adlibitum).  Tempat minum bisa disediakan di sudut kandang atau diletakkan berdekatan dengan tempat pakan.  Wadah tempat minum bisa berupa baskom maupun ember.

D.2. Pencukuran Bulu dan Memandikan Domba
            Domba memiliki bulu yang panjang dan berbentuk gimbal, apabila dibiarkan akan mengakibatkan kotoran mudah menempel pada bulunya.  Hal ini akan menyebabkan domba mudah terjangkit penyakit. Oleh karena itu perlu dilakukan pencukuran bulu. Pencukuran bulu dilakukan pada saat bulu sudah kelihatan lebat dan gimbal. Pada ternak betina sekitar 6 bulan sekali. Sedangkan jantan sekitar 4 bulan sekali.
            Memandikan domba dalam budidaya domba harus dilakukan, memandikan domba dapat dilakukan sebulan sekali, memandikan domba bertuajuan agar badanya tetap bersih dan indah dipandang. Hal ini juga bermanfaat untuk menjaga kesehatan domba.

D.3.  Kesehatan Ternak
Kesehatan ternak tergantung dari kebersihan kandang dan ternaknya.  Semakin bersih kandang dan ternaknya semakin sehat dombanya. Domba yang baru datang sebaiknya dikarantina terlebih dahulu, karantina dilakukan selama dua minggu. Setelah dua minggu baru digabung dengan ternak yang lama. Hal ini bertujuan agar tidak menularkan penyakit bawaan dari ternak yang baru. Ternak yang baru datang sebaiknya diberikan obat cacing dan vitamin, Agar ternak sehat dan bebas dari cacing.

D.4.  Rekording
            Rekording atau pecatatan ternak harus dilakukan. Domba yang baru datang diukur dan ditimbang lalu diberikan tanda berupa nomor telinga atau nomor dengan memakai kalung. Begitu juga anak domba yang baru lahir ditimbang dan diukur. Bagian yang diukur adalah tinggi badan, panjang badan dan lingkar dada, kemudian dilakukan pencatatan di kartu ternak atau di buku rekording. Hal ini bermanfaat agar memudahkan memonitor pekembangan ternak, mengetahui jumlah populasi ternak, memudahkan dalam seleksi ternak, mengetahu kebutuhan pakan, lebih mudah dalam mengatur perkawinan dan memudahkan dalam pelayanan kesehatan domba.



mohon ditonton ada vidio DOMBA UNIK SATU-SATUNYA DI DUNIA
di chanel youtube saya Seru lho : https://youtu.be/bhdds94QbsY


DAFTAR BACAAN
Anggorodi, R. (1997) Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia. Jakarta.

Devendra, C. and Mcloroy, G. B. (1982) Goat and Sheep Production in Tropics. Longman.
               New York.
Mandal, A. at al (2006) Estimationof direct and maternal (co) variance components for
                    preweaning growth traits in muzaffarnagari sheef. Livest.




Wednesday, 11 April 2018


LEGUMINOSA SEBAGAI SUMBER PROTEIN 
PADA PAKAN TERNAK
Oleh : Jamaluddin ZA, SPt. (Kasi Budidaya Peternakan Dinas Peternakan Kab. Lebak)

Protein merupakan salah satu poin utama dalam perhitungan formulasi ransum ternak. Protein sangat berpengaruh dalam pertumbuhan ternak terutama dalam pembentukan otot pada tubuh ternak.  Pakan konsentrat dengan nilai protein yang tinggi akan lebih mahal harganya.  Sumber protein yang mudah diperoleh dan tidak terlalu mahal adalah leguminosa. Leguminosa (polong-polongan) memiliki jumlah protein kasar yang tinggi, sehingga apabila dalam pemberian pakan ternak dicampur dengan leguminosa dapat meningkatkan persentasi protein.  Leguminosa ada yang merambat ada juga yang berbentuk pohon. Berikut ini Jenis-jenis leguminosa yang mudah di budidayakan di Indonesia :

A.  Lamtoro (Leucaena leucocephala)



Lamtoro Banyak tumbuh di wilayah indonesia, biasanya masyarakat Indonesia sering memanfaatkan bijinya untuk di makan baik langsung maupun dimasak. Sementara daunya belum banyak dimanfaatkan. Lamtoro tanaman yang berbentuk pohon, batangnya berwarna coklat, memiliki daun majemuk, daunya kecil berjejer pada tangkai daun. Memiliki buah berbentuk polong yang tersusun dari beberapa biji. Tanaman ini bisa hidup mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Perkembangbiakanya dengan biji. Daun lamtoro memiliki kandungan nutrisi yang sangat baik, memiliki protein kasar 25,80 %(Kushartono, B. Dan Iriani, N.,2004).  Daun lamtoro sangat baik diberikan sebagai campura pakan ternak baik ruminansia maupun ternak unggas.

B. Kelor (moringa Oleifera)


Kelor biasanya banyak ditanam sebagai pagar pembatas lahan karena tanaman ini sangat mudah tumbuh. Perkembangbiakanya bisa dengan stek maupun dengan biji. Kelor merupakan tanaman berbentuk pohon. Batang utamanya berbentuk lurus menjulang tinggi  bisa mencapai 12 meter.  Cabang akan banyak tumbuh apabila dilakukan pemotongan pada batang utama. Daun kelor ukuranya kecil-kecil dan berbentuk bulat lonjong. Memiliki bunga yang berwarna putih, sedangkan buahnya berbentuk polong dan terisi beberapa biji yang berjajar.  Daun kelor memiliki Protein kasar 16-29 % (panjaitan, T., 2010), penggunaan sebanyak 60% dari pakan dasar rumput berpeluang memberikan partambahan bobot badan yang optimal (Muzani, A. dan Panjaitan, S., 2011). Palatabilitas daun kelor dalam bentuk segar tidak terlalu baik, perlu perlakuan agar dapat meningkatkan palatabilitas, misalnya dengan menurunkan kadar air dan dibuat tepung kemudian dijadikan sebagai bahan baku pembuatan konsentrat.

C. Turi (Sesbania grandiflora)


Turi merupakan tanaman leguminosa yang berbentuk pohon, tingginya bisa mencapai 12 m.  Tangkai daunnya berbentuk seperti jari, daunya kecil merupakan daun majemuk dan berbaris dengan rapi. Turi memiliki dua jenis warna bungan yaitu warna putih dan warna merah. Buahnya berbentuk polong dengan biji berbentuk bulat panjang. Perkembangbiakan bisa dilakukan dengan biji maupun stek batang. Tanaman ini Lebih subur di daerah yang lembab. Turi memiliki protein kasar 24 % (Kushartono, B. Dan Iriani, N.,2004).  kandungan biomass sangat rendah dan tidak kuat terhadap pemngkasan berat. Pada musim kemarau Produksi daun turi sangat rendah sekitar 1,9 kg/pohon/3 bulan.  Musim hujan produksi cukup tinggi sekitar 4,5 kg/pohon/ 2 bulan.

D. Kihujan, Cebreng, Gamal (gliricidia Sepium)


Gamal merupakan tanaman yang sangat mudah di jumpai di pedesaan. Taman ini sering dimanfaatkan sebagai pagar pembatas kebun. Gamal sangat mudah dikembangbiakan, Perkembangbiakanya lebih mudah dengan stek walaupun bisa dikembangbiakan dengan biji. Tanaman ini tumbuh dengan baik pada musim hujan maupun kemarau, juga tumbuh dengan baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.
Pemotongan pada batang akan menumbukan banyak tunas yang dapat meningkatkan produksi daun gamal. Produksi daun gamal tergantung pada usia, keadaan lingkungan maupun ukuran tanaman. Produksi daun gamal cukup tinggi sebesar 30 ton/Ha/3 bulan.  Daun gamal memiliki Kandungan Protein kasar yang tinggi yaitu 22,50 % (Kushartono, B. dan Iriani, N.,2004). Gamal juga tahan terhadap serangan kutu loncat. Palatabilitasnya cukup baik, biasanya pemberian pertama pada ternak ruminansia langsung dimakan.


E. Centrosema Pubescens


Centrosema pubescen merupakan tanaman leguminosa yang tumbuhnya merambat. Bunganya berbentuk seperti kupu-kupu. Biasanya tanaman ini dijadikan tanaman penghambat gulma pada perkebunan karet dan kelapa sawit. Centosema bisa tumbih dengan baik mulai dataran rendah sampai dataran tinggi.  Perkembangbiakanya melalui biji. Centrosema memiliki nilai nutrisi yang sangat baik sebagai pakan ternak dan bisa dijadikan tanaman yang digabungkan dengan rumput penggembalaan. Centrosema dapat memperbaiki struktur tanah. Kandungan protein kasar dari centrosema adalah 21,63 % (Purwati, dkk. 2013). Pemberian centrosema sebaiknya maksimal 30 % dari jumlah pakan yang diberikan.

F.  Arachis Pintoi


Arachis pintoi tanaman yang mirip dengan tanaman kacang tanah. Tanaman ini termasuk leguminosa yang dapat menyuburkan tanaman karena dapat mengambil nitrogen dari udara dan mengubahnya sehingga bisa dimanfaatkan oleh tanaman yang lain. Tanaman ini juga dapat menghambat pertumbuhan gulma. Tanaman ini mudah beradaptasi dengan berbagai tipe tanah dan sangat cepat menutup tanah serta kuat dengan kekeringan. Tanaman ini tahan terhadap injakan sehingga sangat cocok dikombinasikan dengan rumput BD maupun BH di lahan penggembalaan untuk meningkatkan nilai nutrisi rumput penggembalaan. Perkembangbiakanya bisa dengan stek maupun dengan biji. Produksi arachis pintoi berkiar 15-20 ton/Ha/thn. Protein kasar arachis pintoi sekitar 13-25 % ( Budiman, H. dkk.,1997) dengan kecernaan 60-70%.











DAFTAR PUSTAKA

Budiman, H. dkk. (1997) Pengembangan tanaman arachis 
            Sebagai Bahan Pakan Ternak.  Balai Penelitian Ternak Ciawi. Bogor.

Kushartono, B. dan Iriani, N. (2004) Inventarisasi Keanekaragaman Hijauan 
             Guna Mendukung Sumber Pakan Ruminansia. Balai Penelitian Ternak. Bogor.

Muzani, A. dan Panjaitan, S. (2011)  Nilai Kelor Sebagai Pakan Ternak Sapi. BPTP   
            Balitbangtan. NTB.

Panjaitan, P. (2010) Inovasi Pengembangan Kelor Sebagai Pakan Ternak Mendukung  
           Swasembada Daging Sapi. BPTP Balitbangtan. NTB.

Rachmansyah, A. dkk. (2012)  Kualitas Hijauan Kacang Pintoi pada Berbagai Panjang stek   
          dan Dosis Pupuk Organik. Fakultas Peternakan. Universitas Diponegoro. Semarang.



Tuesday, 27 March 2018

Mengenal Jenis-jenis Rumput Berkualitas Sebagai Pakan Ternak Ruminansia




 MENGENAL JENIS-JENIS RUMPUT BERKUALITAS 
SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINANSIA

Oleh  :  Jamaluddin ZA, SPt. (Kasi Budidaya Ternak Dinas Peternakan Kab. Lebak)

Sebagai peternak terutama peternak ruminansia seharusnya mengetahui jenis rumput berkualitas sebagai pakan ternak.  Tujuanya adalah agar pemberian pakan pada ternak dapat mendukung kebutuhan gizi ternaknya.  Ada banyak jenis rumput berkualitas yang sudah di budidayakan di Indonesia. Rumput sebagai pakan ternak terbagi dua yaitu : rumput potong dan rumput penggembalaan. Berikut ini ada beberapa jenis rumput yang berkualitas (unggul) yang sudah tumbuh dan beradaptasi di Indonesia :

A. Rumput Gajah (Pennisetum Purpureum)


Rumput gajah merupakan rumput yang berbentuk rumpun dan bisa panen berkali-kali. Rumput gajah bisa tumbuh mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi.  Ciri dari rumput gajah adalah beruas-ruas, dengan memiliki daun yang panjang sedikit berbulu. Rumput gajah memiliki protein kasar sekitar 8,4-11,4 %, lemak 1,7-1,9 %, Serat kasar 29,5-33% dengan daya cerna 52 % (BPTP Yokyakarta, 2013).
Tanaman ini dikembangbikkan dengan stek maupun pols. Pemanenan pertama pada umur 60 hari dan panen berikutnya setiap 40 hari, dengan catatan pemupukan yang seimbang dan cukup air. Pada musim kemarau pemanenan sebaiknya dilakukan setiap 55 hari. Musim kemarau perlu penyiraman minimal satu kali dua minggu.  Produksi rumput gajah per Hektar adalah 100-200 ton/ tahun. Merupakan rumput potong atau cut and carry.  Pemotongan rumput gajah saat panen sebaiknya sekitar 11 cm dari permukaan tanah, karena kalau jarak pemotongan dari tanah terlalu tinggi pertumbuhan tunas baru akan lebih sedikit, tunas akan tumbuh pada batang yang membuat rumput gajah menjadi kerdil dan rumpun yang sedikit.

B. Rumput Odot



Rumput odot memiliki batang yang pendek.  Maksimal ketinggian rumput odot 1 m. Rumput odot memiliki produksi yang tinggi dan  pertumbuhan yang cepat.  Tingkat palatabilitasnya cukup baik, memiliki protein kasar pada batang sekitar 8,2 %. Rumput odot baik tumbuh mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi.  Rumput ini baik diberikan pada ruminansia besar maupun ruminansia kecil karena batang yang lunak dan daun yang tidak berbulu. Perkembangbiakan rumput odot bisa dengan stek batang. Pertama kali panen setelah ditanam sekitar 60 hari, panen selanjutnya setelah 36 hari pada musim hujan dan sekitatar 45 hari pada musim kemarau.

C. Rumput Raja/King Grass (Pennicetum purpupoides)




Rumput raja merupakan persilangan antara rumput gajah dengan pennisetum typhoides. Rumput raja mudah tumbuh di dataran rendah maupun tinggi. Produsinya lebih tinggi dari rumput gajah. Produksi dalam bahan segar sekitar 225 ton/Ha/tahun. Rumput raja merupakan tanaman yang usia tumbuhnya cukup lama. Ketinggian bisa mencapai 4 m, berbatang tebal dan keras. Pada umur sudah tua daunya lebar dan panjang dengan tulang dau yg keras.  Protein Kasar 10,82 %( Kushartono, B. dan Iriani, N., 2004).   Penanaman rumput raja dapat dilakukan dengan pols maupun stek.  Batang yang dipake seharusnya yang sudah tua.

D. Rumput Benggala (Panicum Maximum)


Rumput benggala berbentuk rumpun, tumbuh tegak, memiliki akar serabut. Tingginya bisa mencapai  1,8 m.  Daunya lebih kecil dari rumput gajah.  Perkembangbiakanya dengan biji maupun pols. Protein kasar rumput benggala sekitar 9,6 %, Pemanenan pertama sekitar 60 hari. Pemanenan bisa sampai tujuh tahun dengan pemupukan yang sesuai.
 Produksi bahan kering rumput benggala sekitar 126 ton/ha/thn. Tanaman ini tumbuh  baik pada daerah dataran rendah seperti di kabupaten Lebak. dengan curah hujan 1.000-2.000 mm/thn. Tanaman ini tahan terhadap kekeringan  dan tumbuh lebih baik dengan jumlah air yang cukup, kuat terhadap naungan, Bisa dijadikan rumput potong maupun rumput padang penggembalaan karena perakaranya yang kuat.

E. Rumput Setaria (setaria  spachelata)


Rumput Setaria mempunyai ciri-ciri berbentuk rumpun mirip tanaman sereh, daunya kecil memanjang dan agak lembut, berbatang lunak dan berwarna merah, pamgkal batang pipih. Perkembangbiakan dengan pols (sobekan rumpun) dan bisa juga dengan biji. Tanaman ini mudah tumbuh pada ketinggian 1.000-3000 meter dpl. dengan curah hujan sedang. Tanaman ini tahan terhadap kekeringan, masih hidup di daerah yang sering tergenang air.  Kandungan protein kasar 8,40 % ( Kushartono, B. dan Iriani, N., 2004). Waktu pemanenan setelah berusia 40 hari setelah tinggi rumpun 1 m. Pemotongan rumput sekitar 11 cm dari permukaan tanah. Agar tumbuh lebanyak anakan. Setaria sangat cocok diberikan pada kambing dan domba. Karena tekturnya yang lembut. Produksi rumput setaria dalam bentuk segar sekitar 95 ton/Ha/Thn.

F. Rumput Australia (Paspalum Dilatatum)

Paspalum membentuk rumpun yang padat, berdaun banyak dan berizom merayap yang pendek. Kuat pada penggembalaan berat karena perakaran yang kuat di dalam tanah, tumbuh pada tanah marginal maupun tanah yang subur. Kandungan Protein kasar 10,82% ( Kushartono, B. dan Iriani, N., 2004).

H.  Brachiaria Decumbens




Rumput Brachiaria Decumbens (BD) berbentuk rumpun dan batangnya merambat dan mengeluarkan akar dari ruas batangyang membuat rumpun baru, Sehingga cepat menutupi tanah menjadi hamparan yang lebat.  Daunya tidak terlalu lebar, pendek dan sedikit berbulu. Tinggi rumput BD bisa mencapai 45 cm.  Merupakan rumput untuk padang penggembalaan, karena memiliki perakaran yang dalam dan kuat sehingga tahan terhadap injakan. Penggembalaan bisa dilakukan setelah BD berumur 60 hari.  Produksi rumput BD bisa mencapai 172 ton/Ha/thn.
            Usia rumput BD cukup panjang. Kuat dengan curah hujan yang rendah dan Pertumbuhan yang cepat.  Rumput ini bisa tumbuh baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. BD juga bisa tumbuh di tanah dengan pH rendah (3.5) dan kurang subur. Kandungan nutrisi cukup baik, Protein kasar sekitar 10,6 % (Fanindi A. dan Prawiradiputra B. R.) dengan palatabilitas yang cukup baik. Rumput BD cocok diberikan kepada ruminansia besar maupun ruminansia kecil.  Perkembangbiakanya dengan rumpun (pols) dan bisa juga dengan biji.

I.  Brachiaria Humidicola



Rumput Brachiaria Humidicola (BH) memiliki daun sedikit lebih kecil dari daun BD, batangnya merambat dan mengeluarkan akar dari ruasnya kemudian tumbuh rumpun baru (stolon). BH cocok sebagai rumput penggembalaan karena perakaran yang dalam serta rumpun yang banyak sehingga tahan terhadap injakan. Kuat terhadap penggembalaan berat.  Rumput ini tumbuh baik di dataran rendah tropis juga sampai dataran tinggi, bisa tumbuh dengah pH tanah yang rendah sampai tinggi. Rumput BH dikembangbiakan dengan biji maupun pols (rumpun). Tumbuh dengan rizhome dan stolon sangat cepat menutupi tanah. Produksi rumput BH bisa mencapai 160 ton/Ha/thn, tergantung perawatan. Kandungan Protein kasar sekitar 8,88%. 

J. Rumput Cynodon Dactilon


Rumput cynodon dactilon merupakan rumput yang berstolon, memiliki rhizome dan mempunyai perakaran yang kuat. Daunya kecil memanjang. Kandungan nutrisi rumput ini cukup baik sekitar 8,67 % ( Kushartono, B. dan Iriani, N., 2004).  Rumput ini tetap tumbuh pada musim kemarau, tumbuh lebih baik pada tanah yang kelembabanya tinggi, rumput ini juga kuat terhadap genangan air.  Rumput Cynodon dactilon tumbuh dengan baik apabila tidak ada naungan.  Tingkat palabilitas rumput ini sangat baik. 




DAFTAR PUSTAKA

Fanindi, A. dan Prawiradiputra, B. R. Karakteristik dan Pemanfaatan rumput Brachiaria Sp.
         Balai Penelitian Ternak. Bogor.

Kushartono, B. dan Iriani, N. (2004) Inventarisasi Keanekaragaman Hijauan Guna
            Mendukung Sumber Pakan Ruminansia. Balai Penelitian Ternak. Bogor

Kurniawan W. Dkk (2007) Produksi dan kualitas Brachiaria Humidicola (rend.) Sch, Digitaria 
          decumbens Stent dan Stenotaphrum Secundatum (walter) O. Kunt. Dibawah naungan
           sengon, Karet dan kelapa sawit. Media Peternakan. Jurnal of animal science and
           technologi. IPB.

Supriadi (2013) Macam Bahan Pakan Sapi dan Kandungan Gizinya. BPTP Yokyakarta
Siregar, M.E., (1978) Produktifitas setra kemampuan menahan erosi soecies Rumput setra  
         leguminosa terpilih menjadi pakan ternak yang ditanam pada tamping teras bangku di
         Citanduy. Ciamis.

Siregar. M.E. dan A. Djajanegara (1974) Pengaruh tingkat pemupukan zwavelzurur kalium
        (Zk) terhadap produksi segar 5 jenis rumput, Buletin. L. P. P Bogor No 12.